Senin, 13 November 2017

Mimpi dan Kenyataan "Mahameru"




“Bagaimana udah dapat temen lainnya??”
Itu adalah chat yang selalu saya ulang ulang 4 hari sebelum keberangkatan ke “Mahameru” kepada si partner. Sempat pesimis sih (kalau kalau tidak mendapatkan teman lainnya).

hanya yg ada di benak adalah "HARUS IKHLAS"
1. hanya sampai rakum (pengulangan lagi)
2. sampe kalimati (sambil nanngis dari balik tenda)
3. sampe puncak (tapi tebengan belum pasti)
 
Tapi tetap optimis dengan kemungkinan kemungkinan yang ada :) yang penting mancal wae


Si partner selalu menjawab, "Bismillah mb semoga kita ada tebengan, semoga ada yang bersedia menampung kita, sudah dapat 1 grup sih yang Insya allah bisa nampung kita, tapi g yakin juga bisa ketemu d sana apa g".

“kalau misal sampai hari H belum ada teman yang bersedia nampung bagaimana??? Tetap jalan atau kita pindah haluan sebelum aku bawa peralatan nih? Baluran boleh deh kayaknya”
"Fokus mb fokus, niat kita ke mahameru, pasti banyak tebengannya, kita berdo'a aja yak"
"Baiklah Bismillah, bakal nemu temen tebengan yak"


Catatan kecil
Si partner sebut saja namanya "Feni" ini adalah Wanita tangguh, wanita yang gesit, wanita yang perhitungannya selalu tepat dan cepat dan enak di ajak diskusi. Secara semua sudah di atur oleh dia (wkwkwkkw), setiap saya yang d jogja bertanya “bagaiman dan selalu bagaiman” Si partner selalu ada jawaban dan solusi. Jadi urusan d malangnya sudah di backup oleh DIA.
Seperti
1.       Dari Stasiun ke tumpang naik apa
2.       Dari tumpang ke ranupani naik apa
3.       Konsumsi bagaimana
4.       Tenda dan nesting bagaimana
5.       Pulangnya bagaimana
Semua sudah beres oleh Si partner

Si Patner
H1 (Malang – Ranukumbolo) (Kamis)
Setelah mengurus pendaftaran dan mengikuti briefing dan mengisi perut, tidak disengaja bertemu dengan grup yang sudah di kontak oleh patner, karena pikiran kami, kami akan bertemu di ranukumbolo dan kami nebang hanya saat akan muncak.


 Grup mereka bernama “Jejak Langkah Kecil” http://www.pictame.com/user/jejaklangkahkecil/2073217212 yang digawangi oleh mas "Ari dan mb Dyah (suami istri), yang akan membantu kami kedepannya. (batin ya allah bejo banget bisa ketemu sama mas-masnya, maklum saya baru pertama kali tatap muka). Grup mereka terdiri -+ 15 orang yang ahli alas. Singkat cerita, grup dari mas ari “Jejak Langkah Kecil” sudah jalan duluan sedang kami masih persiapan.
Jauh-jauh hari kami sudah sepakat tidak melakukan perjalanan malam hari, sehingga segala waktupun kami persipkan, secara kami hanya berdua.


Perjalanan dari Ranupani sampai ranukumbolo saya dan partner berjalan berdua, syahdu sekali sesekali berpapasan sama teman-teman lainnya, ada yang berombongan dan ada yang berdua macam kami tapi mereka rata-rata dengan pasangan mereka (semoga dengan pasangan yang syaah wkwkwk)
Kami menyebut diri kami adalah Pejalan Instan secara untuk urusan makan kami cari yang simple (segala jenis makanan warung = Mie Instan segala rasa 'dan ini tidak patut d contoh') , selain karena hanya berdua dan yang paling jelas adalah sudah tidak muat didalam tas tas kami.


Estimasi Waktu Malang - Rakum
Jogja - malang                            : malioboro express jam 20.45 – 03.45
Stasiun malang - tumpang          : diantar adeknya partner naik motor 05.30 – 06.15
Tumpang                                    : mengurus perlengkapan pendaftaran truck
Tumpang - ranupani                   : 07.00 – 09.00
Ranupani                                    : mengurus pendaftaran, briefing, dan persiapan
Ranupani - ranukumbolo            : jam 11.00 – 16.30

Alhamdullilah perjalanan lancar, saatnya membuat tenda, dan jeng jeeeeeeng, hal yg paling mengerikan adalah "mendirikan tenda". Dengan keterbatasan keahlian memasang akhir tindakan adalah meminta tolong tetangga ☺ (Makasih buat mas mas tetangga yang sudah membantu, semoga berjodoh di pelaminan 'ups' maksudnya ketemu d alas lainnya)

Berkat berdirinya tenda, bisa makan soto rasa mie


H2 (Ranukumbolo – Kalimati) (Jum’at)
Setelah sekian lama tidak menikmati dinginnya udara sampai menusuk jari-jari kaki dan tangan, alhamdullilah pagi perdana untuk menikmatinya. Bangun jam 5 pagi untuk shalat subuh rasanya itu enak tidur dirumah dan pastinya betis tidak berasa macho.


Pagi ini ranukumbolo di selimuti kabut pekat, tidak ada sunrise dan tidak ada matahari sampai pukul 07.30, setelah pukul 07.30 berangsur – angsur matahari semakin terlihat dan menjadi hangat, kami pun mulai packing barang – barang yang ada didalam tenda, suara diluar tenda sudah ramai, ada yang foto, ada yang bercanda dengan kelompok mereka dan ada yang masak-masakan buat sarapan setenda mereka, dan kami cukup mencium bau masakan mereka yang sampai kemana mana (ya allah perut berasa melilit mencium aroma masakan mereka, ga tanggung tanggung mereka masak ayam kecap, tempe goreng pakai blueband, nasi goreng dan itu baaaah baunya nikmat sekali (Terbukti bahwa parfum tetangga memang lebih harum).

menunya tetangga, yang aromanya sampe mana mana
Setelah matahari muncul, kami membiarkan sementara tenda kami disinari matahari, agar sedikit ringan dari embun semalaman, multitasking terjadi, ada yang masak nasi dan ada yang packing. Tidak sampai 1 jam kegiatan berlangsung, makan sudah, packing sudah dan packing tenda selesai. Saatnya kami bernagkat ke “Kalimati”.
Hari pertama di Ranukumbolo tidak ada yang spesial, kami foto foto pun tidak, dan tidak menikmati dengan slow waktu d sana, karena fokus kami adalah “Kalimati” dan mencari teman-teman dari “Jejak Langkah Kecil” (niat bangetkan mau nebengin 😁)
H3 (Kalimati) (Sabtu)
Tepat pukul 08.50 kami mulai berjalan menuju “Kalimati”, padahal rencana mulai jalan adalah pukul 8, berhubung mataharinya belum muncul sampai pukul 07.00 maka perjalanan kami undur, wkwkkwkw bukan karena apa apa, tapi dinginnya yang bikin pengen tidur.
Perjalanan kali ini, setiap bertemu dengan grup lain selalu membubuhi kata kata “Nebeng yak besok ke Puncaknya)." Kata kata itu bagaikan hipnotis untuk mereka 😎

Sampai di Jambangan, melihat setengah dari Mahameru melirik dan mengawe awe, rasanya campur aduk, alhamdullilah sampai juga, setelah dua tahun yang lalu hanya sampai Cemoro kandang. Ini semua berkat Si partner, tanpa dia perjalanan ini mungkin masih di tahap berharap kapan sampai sini, Thank you so much partner 😘.


Alhamdullilah sampailah kami di kalimati, sekitar pukul 13.00 wib rasanya pengen tidur mbelesek, lapar dan oooh panas sekali d kulit. Setelah mencari posisi tenda ternyata di tempat iu-pan udah penuh dan sisa tempat iu-pan yang ada kain putihnya (saat briefing dipesan tidak boleh membuat tenda di bawah yang bertanda kain putih). Berpedoman dengan pesan itu kami tidak membuat tenda d bawah pohon berkain putih, so.... kami membuat tenda d tanah lapang yang kiri kanan tidak ada pohonnya (hiks, udah tau donk panasnya bagaimana, dingin panas empuk lah).

Lagi - lagi masalah tenda,  kali ini mas mas porter yang sigap membantu (tanpa meminta tolong), berdua aja?? sini tendanya saya pasangkan, kalian istirahat saja dan sekejap mata tenda sudah berdiri dengan indah (Kebaikan mana lagi yg kau pungkiri).

Sembari tiduran, dimana di atas tenda d tumpuk SB biar g terlalu panas, sambil celingak celinguk mencari grup Jejak Langkah Kecil. Akhirnya tertidur pulas dan sayup sayup mendengar azan asar. Saat akan melakukan tayamun, melihat mereka sedang goreng ayam rasanya langsung 'nyeees', oooh tuhan rezeki mu tak akan tertukar.

.Puncak.
  


Tepat pukul 22.30 wib saya dan patner sudah melakukan persiapan diri, dan menuju titik kumpul bersama mereka, selama 30 menit kedepan ketua grup memeriksa kelengkapan saya dan patner secara kami baru pertama kali menuju mahameru dan tidak tau medan.

Pengecekan berupa
Air                        : 1.5 Lt (wajib)
Snack                   : suka suka (saat itu bawa segambreng snack)
Jaket                     : aman
Sarung Tangan     : Tidak aman (karena saat itu hanya menggunakan sarung tangan motor)
Obat obatan          : aman (saat itu bawa oksigen dan koyo 👴)
Pakaian                 : aman (tidak boleh jins, hanya boleh kain)
dan disini saya mendapatkan ilmu baru, saat pengecekan sarung tangan pak ari bilang "kalau kamu hanya pakai sarung tangan macam ini, kamu bisa kena hipo, sekarang lilit dari pergelangan tangan sampai jari kamu pakai tas kresek termasuk dari pergelangan kaki sampai jari kaki, karena itu dapat menghalau dingin"
 
setelah melakukan briefing dan persiapan yang maksimal tepat pukul 23.00 wib kami berangkat menuju puncak. 
Dan singkatnya kami sampai juga, dengan perjalanan yang sangat menakjubkan, nangis batin (tapi g kapok kapok) Terimakasih buat teman teman dari "Jejak Langkah Kecil" pak, mas dan adek (Ari sejahtera, Wahyu ade, Sudar, Erwin, Novi, Dedy pamungkaz, Agung lemu, Septian, Supri, Ade rizky, Rizky adhim, Ghopur, Satria, Baim dan Arsed). Sudah bersedia menampung dan direpotkan dengan kami berdua 😻.

H4 Pulang


     





Ini lupa dari grup apa, SKSD aja lah

Estimasi Ongkos Semeru ( 2 orang)  
Transportasi Malang-Tumpang PP = 75 ribu
Transportasi Tumpang-Ranupani PP (Truck)  = 105 ribu
Tiket Masuk 4 hari = 160 ribu
Sewa Tenda 4 hari = 25 x 4 = 100 ribu
Sewa Nesting+ kompor = 15 x 4 =60 ribu
Logistik sederhana = +- 200 ribu

Kamis, 08 Desember 2016

Bakmi Bu Asih "Mancasan"

Alamat Wetan Lapangan Mancasan tlpn 081.328.462.052 
(Bisa Pesan) kalau yang rumahnya jauh, biar ga kecelek bisa sms dulu “tanya buka apa tidak”

 

 Berawal dari seorang teman yang hobi “ngontel” ngajak ngebak-mi (dapat rekomendasi dari teman dia yang lainnya), biasanya informasi dari mulut kemulut lebih cepat dan akurat dari segi rekomendasi
    
“udah pernah nge-bakmi mancasan???”
“mancasan??? Mana itu???”
“mancasan, dekat rumahmu, dekat toko baju jolie, belakangnya, disekitar sana ada lapangan naaaah sekitar lapangan lokasinya, terkenal kok, katanya sih enak”
“belum pernah, yuk coba yuk”

Karena termasuk penggila bakmi bihun goreng, akhirnya tanpa basa basi, kami kelokasi. Alhamdullilah ga kecewa dikarenakan tutup (hihihihi)
Aku pesan Bakmie bihun nyemek, pedes, pake kecap, dan jeruk anget
Sedangkan teman satunya pesan Rica-rica entok pake kecap, dan tek poci gula batu


Tapi, yang namanya bakmi jawa yang dimasak pake arang dengan 2 tungku dan sudah terkenal enaknya, pasti antrinya ga kira-kira. Yups saat itu kami kebagian no urut 11, baiklah menunggu 1 jam.

wajan aja ada pasangannya lengkap lagi ... kamu kapan
 Tik tok tik tok ..... 1 jam kemudian .....

“bakmi bihun nyemek pedes pake kecap dan rica-rica entok pake kecap dan minumnya jeruk anget pake teh poci, yah mb”
“iya mb, terimakasih”

Dan apa yang terjadi

Pertama kali nyicip kuah nyemeknya ceeeees meleleh dilidah, langsung dah jatuh cinta pandangan pertama sama “bu Asih” habis itu gangguin kuah rica-ricanya si teman, baaah lumeeeer dimulut saking cocok sama rasanya, kalau muat dua piring pesan saat itu juga.




Semenjak saat itu, tempat nge-bakmi favorit adalah "bahmi bu asih mancasan"

Di warung bakmi bu asih ini, yang jualan hanya bu asih dan anak perempuannya 1 orang, jadi harap maklum kalau lama, tapi sebanding dengan rasanya yang bikin nagih.

Jumat, 12 Agustus 2016

Gunung Slamet


Genk Rumahan
Ga nyangka perjalanan ke slamet semulus ini, segalanya di mudahkan, mulai dari tim yang bisa di ajak rembuk kangen (hanya 4 orang) sampai ketemu sama orang - orang baik di jalan.

Bermodal ijin 1 hari dari pak bos yang nge-acc, saat itu Jum'at 22 Juli 2016 kami mulai perjalanan ke Terminal Giwangan, dimana lokasi transportasi tumpah ruah d sana. Berdasarkan informasi dari pusat Informasi yang ada di terminal giwangan akhirnya masuk ke terminal dengan mebayar retribusi per orang Rp 500,-. 
Tergopoh-gopoh memasuki terminal (intinya mengejar waktu agar sampai purwokertonya ga kemalaman), akhirnya sampai di kulakan tiket bis "Efisisensi" kami datang sisa 4 seat, ga mikir dua kali untuk menolak karena posisi duduk di paling belakang dan langsung jalan (memang jam berangkatnya juga sih 10.00 wib).
Dengan membayar Rp 60.000,- sudah duduk manis dan mendapatkan 1 botol air mineral untuk 5 jam perjalanan (akan sampai di pool bis efisiensi purwokerto pukul 15.00 wib), jangan lupa menikmati sensasi menaiki bis Efisiensinya, kita akan di bawa hanyut dalam setiap perjalanannya dan jangan lupa selama perjalanan untuk tidur.
Sepi tapi penuh
Setelah sampai di pool bis, mas mas kondektur yang akan mengantar kami ke terminal purbalingga menawarkan jasa temannya yang bisa mengantar sampai ke Basecamp Bambangan (per orang Rp 70.000,- ini bisa berkurang apabila anggota timnya semakin banyak hehehe), semacam rental mobil pake supir.

Pengalaman Pertama Tidur Manis di Basecamp
Masih Sepi, ramai nya setelah jam 10 malam, ada yang baru turun ada yang baru datang
Berbekal mandi dari rumah Jum'at pagi, saya rasa sudah cukup untuk perbekalan sampai hari minggu (planning pulang ke rumah), sehingga sampai lokasi saya tidak terbersit untuk mandi namun yang pertama kali dilakukan adalah pesan "Makan", laparnya ga ketulungan (Satu porsi nasi, oseng tempe, sayur kol, dan telur dadar adalah Rp 10.000,- porsi yang mengenyangkan apabila seharian belum makan). Ketua Gank mengurus simaksi dimana perorang membayar Rp 5.000,- .
nget, nak nan
Setelah makan, bersih bersih diri (hanya sikatan dan cuci muka) dilanjut tidur syantik, tidur gasik dilakukan karena mengingat planning kami berangkat adalah habis subuh (pukul 05.30 wib), biar selama perjalanan tidak kepanasan. Apa daya hujan malam itu membuat sangat pulas dan bangun malas malasan (bukan saya yang malas bangun, tapi 3 orang teman saya), dan teng kami siap di pukul 06.00 wib setelah memesan makan untuk sarapan (dibungkus).
Sunset d bacecamp aja udah aduhai gimana d sana
Selama perjalanan dari bacecamp sampai pos 1, disuguhi dengan persawahan sayur milik warga, jalan setapak, bebatuan dan hutan pohon pinus
sawah sayur bayam
 Selanjutnya dibeberapa pos ada penjual yang akan menyediakan minum, makan dan buah semangka, di Gunung Slamet jangan khawatir untuk lapar dan kehabisan makanan, yang penting sangu uangnya yang banyak.
Semangka d pos 1 dan 5
Pos 2 ajang makan
Pos 3 penjualnya
Ini Estimasi Perjalanan kami kemarin
06.00 dari BC      -   07.30 sampai pos 1
08.00 dari pos 1   -   09.00 sampai pos 2
09.15 dari pos 2   -   10.15 sampai pos 3
10.15 dari pos 3   -   11.00 sampai pos 4
11.05 dari pos 4   -   11.40 sampai pos 5
12.00 dari pos 5   -   12.15 sampai pos 6
12.15 dari pos 6   -   13.05 sampai pos 7
Nge-camp pos 7

Estimasi Muncak
03.00 dari pos 7  -  03.20 sampai pos 8
03.20 dari pos 8  -  03.55 sampai pos 9
03.55 dari pos 9  -  04.30 sampai Puncak

Estimasi Pulang
08.45 dari pos 7  -  13.00 sampai BC

Estimasi Biaya
Bis efisiensi PP    Rp 60.000,- x 2 = 120.000
carter mobil/org   Rp 70.000,- x 1 =   70.000
Makan                Rp 10.000, - x 3 =  30.000
Toilet/pipis           Rp   2.000,- x 5 =  10.000
Toilet Bab/Mandi Rp   5.000,- x 1 =    5.000
Cas HP               Rp   2.000,- x 1 =    2.000
simaksi /org         Rp   5.000,- x 1 =    5.000
Semangka /buah  Rp   2.000,- x 3 =    6.000
carter mobil/org   Rp 30.000,- x 1  = 30.000*pake carry dan rombongan dari jakarta (total 9 orang)





Rabu, 24 Februari 2016

Kanekes yang Ngangeni

Dari rumah temen yang ada diserang perjalanan dimulai, sungguh perjalanan panjang dengan sesekali di iringi rintangan jalan bergelombang, hutan-hutan yang hijau, tebing-tebing yang dihiasi oleh pemandangan gunung karang (dalam hati suatu saat akan kegunung karang) menyihir mata. Aaaah tanpa disadari akhirnya ke daerah ini, antara mimpi yang nyata atau hanya masih angan-angan semata.

 SELAMAT DATANG DIDESA CIBOLEGER
Semua bermula dari Desa Ciboleger, saat itu 06 Februari 2016 grombolan kelas berat dari beberapa penjuru daerah menyerbu desa kanekes, banten. Yaa... grombolan kelas berat dari Surabaya, Malang, Jogja, Jakarta dan tentu saja tuan rumahnya dari Pandeglang dan Serang. Kelas berat yang hampir rata-rata berat badan mereka 50kg keatas (ya ... mereka, hooh mereka yang memiliki berat badan 50kg keatas).
Mereka
Ciboleger merupakan desa transit apabila akan menelusuri kampung Baduy luar maupun Baduy dalam, didesa Ciboleger ini lokasi tempat memarkirkan (menitipkan) kendaraan, mengisi amunisi perut diwarung dan mencari guide untuk menuju Baduy Luar. Didesa Ciboleger ini juga terdapat para penjual yang membuka lapak dagangan mereka (Khas baduy Luar/Baduy Dalam). Tapi jangan terburu-buru berbelanja diawal kedatangan, karena ada beberapa rumah-rumah warga Baduy luar juga menjual souvenir lainnya, seperti kain khas berwarna biru (semacam batik), kain tentun, dan juga anyaman lainnya.



Didesa Ciboleger, sempat tercengang ternyata disini udah ada supermarket ala Alfamart (gerak cepat juga ini perusahaan), saya pikir di sekitaran Ciboleger hanya ada pasar/warung tradisional dari masyarakat setempat, akan tetapi saya tidak melihat pasar tradisional di sekitar Ciboleger / selama perjalanan menuju Baduy Luar (entah saya yang datang kesiangan atau memang tidak ada pasar) yang terlihat adalah warung dari rumah - rumah penduduk yang membuka warung sayuran. Sedangkan untuk warung makan masih banyak terlihat.
Saatnya berjalan menuju Baduy luar kali ini, karena pada bulan februari Baduy dalam sedang melalukan tradisi kawalu (bersih desa) sehingga perjalanan cukup sampai di Baduy luar. Tanya-tanya dari guidenya akang "Pulung" (dia adalah penduduk baduy dalam) dari desa ciboleger perjalanan sekitar 1 jam menuju baduy luar. Baiklah Lest go kita jalan ke kaki gunung Kendeng, perjalanan yang sungguh indah, kiri kanan pohon-pohon hijau, sesekali persawahan penduduk sekitar, dan beberapa terdapat saluran selang air untuk masyarakat yang berada di lokasi bawah (yaitu desa ciboleger). Selama perjalanan, trik matahari tidak terlalu menyengat, karena beberapa pohon yang berdaun lebar menutupi badan jalan (ingat sesekali daun menutupi badan jalan).
Ditengah perjalanan, ada beberapa orang masyarakat (Kurang tau yang berjualan adalah orang kanekes sendiri atau warga dari desa ciboleger) menjual berbagai macam minuman, dan es kacang hijau dan sesekali berpapasan dengan masyarakat baduy luar / baduy dalam yang sedang turun ke desa ciboleger (entah membeli, atau sekedar bermain di desa bawah).

Pakaian yang mereka kenakan sehari-hari berwarna putih / hitam, kain sarung hitam, dan ikat kepala putih menjadi pakaian keseharian mereka atau untuk wanitanya menggunakan baju berwarna hitam/coklat dengan kain batik warna biru. Masyarakat Kanekes ini benar-benar memperhatikan lingkungan, sungai mereka tidak ada sampah dan airnya bersih, banyak pohon-pohon sehingga menambah kesan sejuk, rumah-rumah penduduk yang keseluruhannya terbuat dari ayaman bambu (rumah panggung). Rata-rata para wanitanya membuat kain dan berjualan.

Rumah Kepala Desa


Perkampungan Baduy Luar
Jembatan perbatasan antara Baduy Luar dan dalam
Lumbung Padi
guide selama di serang akang irwan 081218291846
guide selama d baduy namanya pak agus 081281660087, tapi menugaskan akang pulung yang mengantrakan perjalanan selama ke baduy luar

retribusinya :
parkir kendaraan
biaya guide 1 rombongan 150 ribu

Popular Posts